Jumat, 29 Mei 2026

Petani, Pahlawan yang Menanam Masa Depan

Petani, Pahlawan yang Menanam Masa Depan

Oleh: Nugroho Sukamto W




Di bawah langit yang membara,

ia melangkah tanpa sorak kemenangan.

Tak ada karpet merah membentang,

hanya tanah retak yang menunggu harapan.


Tangannya kasar oleh musim,

kulitnya legam dipeluk matahari.

Namun dari jemari yang penuh luka itu,

lahir kehidupan bagi negeri.


Ia bukan jenderal di medan perang,

namun setiap hari menaklukkan kegagalan.

Ia bukan raja dengan mahkota emas,

namun memerintah hamparan sawah dengan ketekunan.


Ketika fajar masih terlelap,

langkahnya telah menyusuri pematang.

Saat dunia masih bermimpi,

ia telah menanam masa depan.


Hujan datang, ia bertahan.

Kemarau panjang, ia melawan.

Angin merobohkan harapan,

namun tak pernah meruntuhkan keyakinan.


Wahai petani,

engkau adalah syair yang ditulis bumi.

Pahlawan sunyi yang jarang dipuji,

tetapi namamu hidup dalam setiap butir nasi.


Jika para pejuang menjaga negeri dengan keberanian,

maka engkau menjaganya dengan kesabaran.

Jika mereka mengangkat senjata demi kemerdekaan,

engkau mengangkat cangkul demi kehidupan.


Maka berdirilah dengan bangga,

karena di pundakmu negeri ini bertumpu.

Selama benih masih kau taburkan ke tanah,

selama itu pula harapan akan selalu tumbuh.


Engkau bukan sekadar petani,

engkau adalah penjaga peradaban,

penakluk musim,

dan pahlawan yang menanam masa depan.



EmoticonEmoticon